Make your own free website on Tripod.com


Sa'ad bin Abi Waqqash Penakluk Istana Putih Kisra

Ass. Wr. Wb.

Sa'ad bin Abi Waqqash termasuk seorang ksatria berkuda yang selalu terjun ke tengah peperangan dengan anak panahnya yang ampuh. Banyak keistimewaan yang dimilikinya. Tapi ada dua hal penting yang dikenal orang tentang keksatriannya, yaitu Sa'ad merupakan orang pertama yang melepaskan anak panah guna membela agama Allah dan ia juga orang yang pertama kali terkena anak panah; selain itu Sa'ad adalah satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasulullah saw. dengan jaminan kedua orangtua Nabi saw. Rasulullah saw. bersabda dalam perang Uhud: "Panahlah hai Sa'ad! Ayah-ibuku menjadi jaminan bagimu". Rasul saw. pernah menyaksikan bidikan panah Sa'ad dalam pertempuran dan Rasul berdoa: "Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkanlah doanya".

Sa'ad bin Abi Waqqash hampir selalu menyertai Rasulullah saw. di masa hidupnya. Pada suatu ketika Sa'ad dan kawan-kawannya pernah dihadang oleh Abu Jahal dan sekelompok kaum Musyrikin sehingga terjadilah perkelahian antara keduanya. Sa'ad sempat melukai salah seorang kelompok Abu Jahal, namun ia sendiri terluka dalam perkelahian itu. Ketika menjumpai Nabi saw. luka-luka Sa'ad diobati dan dibalut oleh Nabi sendiri seraya berkata: "Darahmu ini, wahai Sa'ad, di jalan Allah"

Setelah wafatnya Rasulullah saw, tampuk pimpinan pindah ke tangan Abu Bakar as-Shiddiq r.a. dan setelah mangkat, jabatan khalifah beralih ke Umar bin Khattab r.a. Di masa inilah Sa'ad diserahkan untuk memimpin angkatan perang kaum Muslimin.

Dalam penyebaran agama ke Persia, dikirimlah utusan dari Sa'ad ke pemerintahan kota Qadisiyah untuk mengadakan perundingan dengan Panglima perang kota itu, yaitu Panglima Rustum. Tujuan perundingan ini tak lain untuk mengajak masuk Islam atau membayar pajak. Kedatangan utusan Sa'ad ditolak oleh Raja Persia dan Panglima Rustum dan mereka disuruh kembali ke pasukan kaum Muslimin dengan membawa sekarung tanah sebagai penghinaan. Sekembalinya utusan Sa'ad ke pasukan mereka, Sa'ad yang melihat kedatangan mereka yang demikin tak dapat menahan emosinya. Dengan air mata berlinang-linang ia berkata kepada pasukannya: "Bergembiralah! Demi Allah, sesungguhnya Allah pasti memberikan kunci kerajaan mereka kepada kita"

Sa'ad yang pada saat itu menderita sakit sebenarnya ingin menunda pertempuran, namun ia teringat akan sabda Rasulullah saw. bahwa dalam keadaan yang sulit sekalipun, jangan sampai terucapkan kalimat: "Sekiranya begini dan begini, pasti... seandainya...", karena dapat menunjukkan kelemahan dan dapat ditunggangi setan.

Setelah menguatkan pendirian dan meneguhkan hati untuk menahan sakitnya, Sa'ad bin Abi Waqqash melaksanakan shalat Zuhur bersama tentaranya kemudian ia mengucapkan takbir empat kali: "Allahu Akbar... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar..." kemudian ia memberikan komando kepada pasukannya: " Majulah wahai kaum Muslimin dan harapkanlah kemenangan dengan berkah Allah".

Pertempuran semakin sengit, siang dan malam Sa'ad dan pasukannya harus melawan tentara Persia yang menunggang gajah. Dalam keadaan terdesak melawan pasukan gajah itu, Sa'ad mengambil siasat untuk memanah mata dan bibir gajah dari jarak jauh. Karena kewalahan dengan anak panah dari Sa'ad dan para pasukannya, tentara musuh banyak yang mati dan lari meninggalkan tempat pertempuran. Panglima Rustum pun berusaha melarikan diri namun berhasil dihadang pasukan Sa'ad dan dibunuh. Do'a Sa'ad dikabulkan Allah swt dengan buah kemenangan itu

Penyerangan pun berlanjut ke kota Madain, dimana untuk memasuki kota itu harus menyeberangi sungai Tigris yang deras airnya. Melihat kondisi itu, Sa'ad memerintahkan pasukannya agar membaca hasbunallahu wa ni'mal maula wa ni'mannashir (Cukuplah Allah bagi kita, Dialah sebaik-baiknya pemimpin dan penolong). Doa Sa'ad pun kali ini dikabulkan oleh Allah. Setelah sampai di hadapan Istana Putih Kisra, Takbir pun kembali dikumandangkan sebagai aba-aba untuk menyerang. Namun penyerangan tidak dilanjutkan karena pihak Istana Kisra telah menyerah dan bersedia membayar upeti.

Kemenangan demi kemenangan tidak membuat Sa'ad sombong dan congkak. Sa'ad ditugaskan menjadi gubernur di Irak. Namun karena ada fitnah terhadapnya, ia turun dari jabatannya dan bahkan ia menolak jabatan amir di Irak yang ditawarkannya, dengan alasan ingin mendekatkan diri dengan Allah swt.

Pada usia 80, Sa'ad mulai diserang penyakit sehingga kondisinya melemah. Ketika anaknya melihatnya, anaknya tak kuasa menahan tangis. Namun ia hanya berujar: "Apa yang kau tangisi anakku? Demi Allah, Dia tidak akan menyiksaku. Aku telah dijanjikan surga oleh Rasul Allah. Setelah Wafat, Sa'ad dikuburkan di Baqi', tempat dikuburnya para Syuhada.

****